Diskusi Filsafat

Diskusi Filsafat
Akhir-akhir ini saya mulai tertarik mempelajari filsafat. Saya menyadari kenyataan bahwa tidak mudah mempelajari filsafat. Akan tetapi, saya juga berkeyakinan walaupun tidak mudah tetapi bukan berarti tidak ada jalan keluar untuk mempelajari filsafat dengan lebih mudah. Salah satu jalan keluar yang menurut saya perlu dicoba adalah mengajak orang lain untuk belajar bersama.
Saat ini saya sedang membaca buku yang ditulis Stephen Palmquist, Pohon Filsafat Teks Kuliah Pengantar Filsafat, penerjemah Muhammad Shodiq, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007. Judul asli: The Tree of Philosophy A Course of Introductory Lectures for Beginning Students of Philosophy, Hongkong, Philopsychy Press, 2000. Sehubungan dengan itu saya mengajak para peminat filsafat untuk berdiskusi mengenai filsafat terutama mengenai buku di atas.

Menurut Muhammad Shodiq, ada lima pendekatan utama yang dipakai dalam pembelajaran Pengantar Filsafat, yaitu:

  1. Historis/kronologis
  2. Metodologis
  3. Analitis
  4. Eksistensial
  5. Terpadu

Diskusi 1:

Pertanyaan:

Apakah Kebenaran selalu benar?

Jawaban:

– Hen Mad:

kebenaran adalah sesuatu yg relatif. relatif terhadap zaman(waktu), thd orang per orang yg memberi penilaian, relatif thd ruang… sesuatu hal yg benar di zaman lalu, oleh orang/kelompok orang tertentu dan di tempat tertentu belum tentu benar pula bagi orang/sekelompok orang yg lain pd zaman lain dan di tempat lain.

Catatanku:

1) Dalam filsafat ditemukan banyak pertanyaan mengenai hal-hal yang sebenarnya sederhana namun sangat bermakna. Contoh, pernahkah anda mencoba melihat mata kanan anda dengan mata kiri anda?

2) Mitos-mitos dalam Filsafat

a) …., alangkah baiknya bila dalam menyimak suatu mitos kuno, kita menganggap semua tokoh itu dalam hal tertentu menuturkan cerita tentang siapakah kita. Ketika saya membaca mitos sebagai riwayat hidup saya sendiri, maka sesuatu yang dulu tampak aneh dan tidak relevan tiba-tiba mengilhami makna baru.

3) Kata Indonesia “ilmu” berasal dari kata Arab ‘ilm yang berarti “pengetahuan”.

4) …Sokrates dengan jelas menyatakan kriteria pertama untuk menjadi filsuf yang baik: kita harus mengakui kebebalan kita!

5) Apakah logika itu?

a) “logos” berarti “kata”, dengan demikian pengertian “logis” mengacu pada penggunaan kata-kata sedemikian rupa sehingga membawa makna. Kata-kata membawa makna bila berkombinasi dengan kata-kata lain. Istilah khas yang dipakai dalam logika untuk menunjukkan kalimat yan mengemukakan hubungan maknawi antara dua kata atau lebih adalah “preposisi”.

b) Sesuatu bisa salah total meskipun diungkapkan dengan cara yang logis (atau sahih); bisa pula sesuatu ternyata benar sepenuhnya walaupun kebenaran itu dinyatakan dengan cara yang tidak logis. Jenis kekeliruan yang dielakkan dengan bantuan logika tidak disebut “kesalahan” (falsehood) melainkan “kesesatan” (fallacy). Sebagian filsuf terlalu gemar menjuluki sesat segala jenis kekeliruan berlogika sehingga pencarian mereka terhadap kesesatan menjadi kesesatan sendiri. Kesesatan perihal kesesatan (the fallacy fallacy)!

6) Pembedaan metode argumentasi antara yang analitik dan sintetik lebih dikenal dengan pembedaan antara “deduksi” dan “induksi”.

a) Silogisme:

Semua manusia adalah fana.

Sokrates adalah manusia.

Sokrates adalah fana.

Semua m adalah f.

S adalah m.

S adalah f.

b) Deduksi

Semua planet berputar mengelilingi suatu bintan dengan cara sedemikian rupa sehingga bintang itu pada penampakannya selalu terbit di cakrawala timur planet yang bersangkutan

Bumi adalah planet dan matahari adalah bintang.

Matahari selalu terbit di timur.

c) Induksi

Ayahku berkata bahwa di hari pertama ia lihat matahari terbit, terbitnya di timur.

Ibuku berkata bahwa matahari terbit di timur pada hari kelahiranku.

Pada hari pertama aku lihat matahari terbit seingatku, terbitnya di timur.

Pekan lalu , aku bangun awal dan melihat matahari terbit di timur.

Kemarin aku mengalami hal yang sama.

Aku belum pernah mendengar orang berkata bahwa ia pernah melihat matahari terbit di utara, selatan, ataupun barat.

Matahari selalu terbit di timur.

Beberapa pertanyaan yang muncul pada  beberapa perkuliahan terakhir:

1. Apakah Tuhan mempunyai keterbatasan?

2. Siapakah yang menciptakan Tuhan?

3. Apakah sesuatu yang ada selalu berasal dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya?

4. Kapankah Pancasila mulai ada?

Satu pemikiran pada “Diskusi Filsafat

  1. salam, Bung! ulsasan-ulasan filosofis Anda tersebut tentu menjadi bagian dari “kerikil-kerikil” filsafat di Indonesia. saya seorang mahasiswa filsafat di sebuah PT swasta. kalau bukan kita lalu siapa?! salam kenal, Bung!!!

    Salam kenal juga. Betul sekali, kalau bukan kita lalu siapa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s